Senin, 06 Agustus 2018

Memahami Gempabumi NTB

Bismillahirrahmanirrahim,

Pertama, di dalam Al-Qur’an memang kita temukan sejumlah ayat yang berbicara tentang azab Allah kepada suatu kaum dalam bentuk bencana alam. Kaum Nabi Nuh a.s., misalnya, disiksa dengan banjir besar. Ayat-ayat al-Qur’an yang berbicara tentang azab Allah terhadap suatu kaum dalam bentuk bencana alam (seperti angin kencang, banjir besar, gempabumi, dan sebagainya), itu adalah firman (kalam) Allah. Pernyataan Allah. Statemen Allah. Setelah wahyu tidak lagi turun, setelah Rasulullah saw. yang menerima wahyu telah wafat, setelah risalah Allah telah sempurna, tidak seorang pun dapat memastikan apakah suatu bencana alam yang sedang terjadi merupakan azab Allah atau bukan. Bukan hanya karena hal itu termasuk hal yang gaib yang hanya diketahui oleh Allah, tetapi juga karena gempabumi dan sebagainya itu merupakan fenomena alam biasa.

Kedua, di belahan lain bumi yang tidak berpenghuni manusia pun, biasa terjadi bencana seperti itu. Gempabumi yang terjadi di bagian bumi yang tidak dihuni oleh manusia, itu untuk mengazab siapa?

Ketiga, adanya azab Tuhan dalam bentuk bencana alam yang disebutkan di dalam Al-Qur’an, sayangnya, membuat sebagian orang mengambil kesimpulan secara salah. Mereka berpikir: “karena azab Tuhan itu berupa bencana alam, maka berarti semua bencana alam adala azab Tuhan”. Sebuah logika berpikir yang terbalik. Azab Tuhan tidak hanya berupa bencana alam, bahkan kekayaan melimpah pun bisa jadi merupakan azab.

Keempat, mengaitkan bencana alam dengan tokoh tertentu atau masyarakat tertentu sama halnya dengan mengaitkan keadaan miskin atau kaya seseorang dengan ridha dan murka Tuhan. Orang yang hidup miskin tidak berarti ia sedang dimurkai Allah, dan orang yang hidup kaya juga tidak berarti sedang diridhai oleh Allah. Allah berfirman: Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, “Tuhanku telah memuliakanku.” Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, “Tuhanku telah menghinaku.” Sekali-kali tidak! (QS al-Fajr [89]: 15-17). Dengan kata lain, masyarakat Jakarta yang saat ini tidak mengalami gempabumi belum tentu lebih disayangi oleh Allah daripada masyarakat NTB yang sedang mengalami musibah gempabumi.

Kelima, perubahan yang terjadi pada alam semesta itu fenomena sangat biasa sesuai dengan sistem yang sudah diatur oleh Allah. Kita mengenalnya dengan sebutan sunnatullah. Ada orang yang menyebutnya hukum alam. Seandainya tidak ada manusia di atas bumi pun, fenomena alam itu tetap terjadi mengikuti sunnatullah. Di planet lain seperti Mars (yang tidak dihuni oleh manusia), gejala atau fenomena alam seperti perubahan iklim itu tetap saja terjadi. Buat apa ada goncangan di planet Mars? Untuk mengazab siapa?

Wallahu a’lam.

Repost dari https://www.facebook.com/marifin768


0 comments:

Posting Komentar