Selasa, 05 September 2017

Tulangan Bambu

Ada beberapa hal yg harus diperhatikan jika bambu menjadi tulangan untuk beton:

1. permukaan bambu harus kasar supaya adukan beton nempel dengan baik.
2. pastikan bambu yg dipakai tidak mengalami penyusutan.
3. jangan ada permukaan bambu yang tidak terlindungi dari beton, karena akan terserang hama dan bakteri

Download GRATIS Tutorial , Software dan Ebook Teknik Sipil di https://goo.gl/oAVVFw

Bambu memiliki kekuatan sejajar serat yang tinggi namun kekuatan tegak lurus seratnya rendah. Karena itu, akan terkesan reot ketika dimanfaatkan untuk konstruksi. Selain terkesan reot, Prof. Dr. Ir. Sri Murni Dewi, MS dari Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT-UB) mengungkapkan bahwa bambu juga mudah goyah. Selama ini, masyarakat banyak menggunakan bambu hanya sebagai perancah. Prof. Dr. Ir. Sri Murni Dewi, MS menyampaikan hal ini kepada PRASETYA Online, Selasa (24/11/2015).

Agar konstruksi bambu menjadi kuat, Dewi memiliki ide untuk menggabungkannya dengan beton. Bambu digunakan alumni program sarjana dan magister Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung (ITB) ini sebagai tulangan pada beton.
Kuda-kuda atap dari beton bertulangan bambu
Kuda-kuda atap dari beton bertulangan bambuPemanfaatan bambu sebagai tulangan memiliki beberapa keunggulan dibanding baja yang lebih banyak digunakan selama ini. Dipaparkan Dewi, Bambu bisa ditanam, pertumbuhannya cepat dan sudah bisa dipanen saat berumur lima tahun. Sementara baja harus dibuat di pabrik dan membutuhkan energi dalam jumlah besar. Dalam satu kali produksi, tidak banyak pula baja yang dihasilkan.

Sayangnya, disampaikan perempuan dengan tiga putera/puteri dan satu cucu ini, tidak sampai satu tahun kekuatan bambu bisa berkurang. Meskipun kini telah ada teknologi pengawetan bambu. "Dengan pengawetan dan pemakaian di dalam ruangan, bambu bisa tahan hingga 20 tahun," kata dewi yang mengawali karier sebagai konsultan di Jakarta. Dalam kurun waktu tersebut kekuatan bambu bisa terjaga dan tidak dimakan rayap. "Apalagi jika dipakai sebagai tulangan, karena posisinya tertutup," ia menambahkan.

Tulangan bambu untuk balok beton
Tulangan bambu untuk balok betonKarena pemakaian bambu sebagai tulangan masih tradisional, maka biaya banyak terserap pada ongkos tukang untuk mengecat dan ngelabur. "Biaya tukang mungkin bisa dihemat jika diproduksi dalam skala industri," kata Dewi yang memulai aktivitas di UB pada 1981.

Selama proses pembuatan tulangan, Dewi terkendala seringnya bambu selip dengan beton. "Bambu dan beton tidak bisa merekat. Karena ketika mengecor, air diserap dan bambu pun mekar. Sementara pengerjaan akan lebih susah ketika bambu menjadi kering," katanya. Karena itu, cat dan labur pasir dimanfaatkan untuk menutup posi-pori bambu sehingga menjadi kasar dan lengket dengan beton.

Istri Cucut Atmaja ini telah menggunakan tulangan bambu sebagai pengganti tulangan baja untuk konstruksi bangunan rumah dua lantai miliknya. Beton bertulangan bambu dimanfaatkannya pada kuda-kuda atap rumah. Selain itu, juga dimanfaatkan pada lantai, balok dan kolom.

Pemasangan bressing bambu pada dinding bata
Pemasangan bressing bambu pada dinding bataPemakaian tulangan bambu, diakui Dewi belum familiar di masyarakat. "Tidak ada yang berani, masih takut," kata dia. Masyarakat, menurutnya mengira bahwa bambu gampang rusak dan lapuk serta tidak tahan lama. Ia menambahkan bambu telah lama digunakan di Indonesia, diantaranya sebagai bahan konstruksi (atap, dinding, lantai), bahan pembuatan kandang, bahan perancahan, jembatan sementara dan bangunan sementara. "Pemakaian bambu sebagai bahan bangunan sementara karena sifat keawetannya rendah," tuturnya.

Bangunan dengan bahan bambu terkesan reot dan tidak kokoh. Selain itu, karena deformasi besar sehingga kelihatan kumuh. Padahal, bangunan dengan konstruksi bambu lebih tahan gempa dibanding rumah dengan batu bata. "Kalau ditutup dengan beton maka bangunan akan terlihat lebih rapi," tandasnya.

Selain memanfaatkan sebagai tulangan beton, Dewi juga menggunakan bambu untuk memperkuat dinding bata. Dinding bata di-bressingdengan bambu, kemudian dipoles spesi untuk menaikkan gaya gempa sehingga bangunan tidak runtuh ketika menahan gempa.

Prof. Dr. Ir. Sri Murni Dewi, MS meneliti bambu sejak lulus pendidikan doktoral dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya pada 2006. Dalam disertasinya, ia mengangkat judul "Analisis Plat Lapis Komposit Anyaman Bambu Sebagai Akibat Beban Lentur dan Beban in-plane".

Pada tahun 2007, Dewi dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang konstruksi di Universitas Brawijaya. Berbagai program hibah penelitian multiyears ia peroleh untuk penelitian bambu ini. Pada 2014, ia mendapatkan hibah bersaing multiyears Rp. 150 juta untuk penelitian berjudul "Konstruksi Beton Bertulangan Bambu".

Untuk penelitian 2016, Dewi juga mengajukan proposal penelitian Hibah Kompetensi multiyears Rp. 300 juta. Proposalnya berjudul "Peningkatan Kinerja Beton Bertulangan Bambu dengan Penambahan Pasak pada Tulangan".

Bersama dua rekannya yakni Ir. Widodo Suyadi, M.Eng dan Tedy Wonglele, ST; pada 19 Juni 2011 Sri Murni Dewi mendapat Hak atas Kekayaan Intelektual (HKI) untuk "Proses Pembuatan Rangka Atap dari Bambu Komposit dan Produk yang Dihasilkan degan Menggunakan Proses Tersebut".

Bambu juga telah melahirkan beberapa mahasiswa program doktor dari Teknik Sipil FT-UB seperti Wisnumurti, Karyadi, Nindyawati, As'ad Munawir serta Sri Umniyati. [Denok/Humas UB]




Informasi Tentang Tulang Bambu Untuk Tulang Pengecoran





0 comments:

Posting Komentar